Kritis Oksigen RSUP Dr. Sardjito (1): Kisah-Kisah Pilu dalam Akhir Pekan

0
16

Panti Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta menikmati krisis oksigen parah dalam Sabtu, 3 Juli 2021. Sejumlah keluarga pasien dengan meninggal pada malam itu berbagi kisah dengan balutan kesedihan dan pertanyaan. Itu ingin, tragedi ini tidak terulang dan menimpa tanggungan lain di tengah pandemi. Nasib Baryanto bisa disebutkan kurang beruntung, tetapi dalam saat bersamaan dia juga beruntung. Kurang beruntung karena dia dinyatakan positif COVID-19. Namun dia juga mujur karena status itu memberinya kesempatan menemani ibunya, dengan juga dinyatakan positif COVID-19, di hari-hari terakhirnya di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Baryanto ingat betul, bagaimana situasi ruangan tempat ibunya dirawat pada malam kala krisis oksigen melanda. Kira-kira pukul 21. 00 WIB, tiba-tiba mesin High Flow Nasal Cannula (HFNC) yang dipakai untuk merawat ibunya, mengeluarkan bunyi keras. “Setelah mesin ibu bunyi, sedang beberapa menit, antara 10-15 menit, mesin yang lain juga mengalami respon yang sama, bunyi juga. Kedengeran that-thit-that-thit dengan nada dengan sama. Ada beberapa sebab bunyinya saling bersautan, kami tidak bisa memperkirakan berapa jumlahnya, ” kata Baryanto. Ibu dari Baryanto adalah satu dari 63 anak obat di RSUP Dr. Sardjito yang meninggal dalam kurun 24 jam, antara Sabtu (3/7) pagi hingga Minggu (4/7) pagi. Rumah sakit tersebut mengalami krisis oksigen dan telah mengupayakan pemenuhan kebutuhan sejak 29 Juni 2021. Puncak krisis terjadi, menurut keterangan resmi sendi sakit, terjadi karena lonjakan kedatangan pasien pada Jumat (2/7). Dari 63 penderita meninggal periode itu, patuh data rumah sakit, 33 pasien meninggal usai pola oksigen sentral mati memukul 20. 00 hari Sabtu. Namun, direktur rumah kecil ketika itu berpendapat, janji itu tidak terkait tepat krisis oksigen. Komite medis RSUP Dr. Sardjito zaman ini tengah bekerja buat menyelidiki kasus tersebut. Betul Tergantung Oksigen Baryanto, masyarakat Klaten, Jawa Tengah, awalnya merawat sang ibu dalam rumah. Namun saturasi oksigen yang terus turun tenggat kisaran 60 memaksanya membongkar-bongkar rumah sakit di Yogyakarta. Beberapa yang dia datangi penuh, hingga dia membatalkan menuju ke RSUP Dr. Sardjito, yang ternyata padahal mengalami tren kenaikan kedatangan pasien. Waktu mereka tiba, hanya ada satu kamp di halaman IGD, sehari kemudian ada tambahan dua tenda lagi. Awalnya, si ibu dirawat di poli COVID-19, RSUP Dr. Sardjito. Karena saturasi terus mendarat, pada Sabtu 3 Juli, Baryanto meminta ibunya dirawat di IGD. Kesempatan pegari sekitar pukul 17. 00 WIB. Dia bersyukur kesudahannya sang ibu bisa dirawat dengan mesin HFNC. Pasokan dari mesin beraliran tinggi itu membuat saturasi terbang, hingga mendekati 90. Baru sekitar lima jam pada ruang IGD, masalah menjelma. Bunyi mesin HFNC di sisi ranjang ibunya, terekam betul dalam ingatannya. “Yang pertama kalau enggak lupa, yang bunyi itu mesinnya ibu. Saya coba pengesahan ke dokter. Kata sinse, ini mesin bunyi enggak masalah. Selang beberapa menit, dokter menaikkan pasokan oksigen, yang pertama di nilai 30 lalu dinaikkan 50, kalau enggak salah. Akan tetapi mesin tetap bunyi terus. Pada saat dinaikkan, data dari dokter mesin ada gangguan dari pusat, ” papar Baryanto. Karena HFNC tidak bisa berfungsi suntuk, menurut Baryanto dokter menyilih asupan oksigen ibunya secara tabung dan memakai kedok oksigen (oxygen mask). Saturasi ibunya langsung turun ke angka 60, 50 mematok pelan-pelan drop ke angka 20. Dokter memindahkan pasien ke ruangan lain, tetapi tindakan itu tidak pas menolong. Dokter menerangkan ke Baryanto, bahwa kondisi tersebut akan membuat ibunya kelelahan nafas, yang bisa membuahkan henti nafas atau malang jantung. Dia akhirnya kematian sang ibu sekitar memukul 01. 00 WIB, Minggu (4/7), sekitar empat tanda setelah oksigen sentral pada RSUP Dr. Sardjito asal. Sekitar pukul 16. 30, atau lima belas tanda sesudahnya, jenazah sang ibu baru bisa dibawa pulang Baryanto. Dia mengatakan, ibunya ada di nomor antrian 48 hari itu dalam ruang jenazah. Baru di siang hari itulah, anugerah informasi sesama keluarga penderita, dan penuturan seorang dokter, dia tahu bahwa semalam, ketika ibunya berjuang untuk bertahan, rumah sakit menjalani krisis oksigen. Kekagetan Tim Pasien dan Dokter Dongeng lain dipaparkan Johny, dengan mertuanya dinyatakan positif COVID-19. Tanggal 25 Juni, sang ibu mertua merasakan hangat, mereka melakukan swab PCR, cek darah dan rontgen di RSUD Dr. Sardjito. Ada dugaan COVID-19, tetapi hasil tes harus ditunggu beberapa hari dari itu isoman. Dokter juga mengucapkan tidak menemukan penyakit penyerta. Di tengah isoman, saturasi mertua Johny turun had 80 pada 30 Juni 2021. Mereka memutuskan untuk kembali ke Sardjito. “Sewaktu cek di Sardjito, saturasi 70, langsung direkomendasikan hadir IGD, ditangani disana. Sebab dokter dipasang alat-alat buat suplai oksigen. HFNC sungguh. Saturasi kembali normal, mampu sampai 90, 96 apalagi sampai 99 waktu itu, ” papar Johny. Sejauh ini, ibu mertua Johny hanya mengalami masalah pernafasan, dia dinyatakan tidak mempunyai komorbid. Sehari berada dalam IGD, dia kemudian dipindah ke bangsa GK 1 pada 1 Juli 2021. “Saya koordinasi dengan sinse. Kondisinya baik, tidak tersedia masalah apa-apa, ” sekapur Johny. Hari Jumat, Johny menitipkan telepon genggam untuk ibunya, Sabtu pagi sang ibu menelepon meminta kiriman selimut. Sorenya, kata Johny, ibu mertuanya juga menelepon. Kabar dari dokter mengucapkan kondisinya masih tidak ada masalah, saturasi 90 secara HFNC terpasang. Namun pukul 21. 00, Johny menyambut kabar berubah, ibu mertuanya dinyatakan meninggal dunia. Johny langsung menelepon dokter dengan merawat ibu mertuanya. “Saya tanya, Pak ini ibu saya bagaimana, kok tahu-tahu bisa innalillahi (wafat-red) begini. Dokter enggak percaya, beta dikira guyon. Dokter sejumlah, enggaklah Pak, tadi sore saya di sana memeriksa kondisinya, juga tidak mengkhawatirkan, saturasi masih di akan 90, ” kata Johny mengutip dokter. Johny tak paham tentang krisis oksigen yang terjadi, karena itulah dia heran dengan kepergian ibu mertuanya, seperti serupa dokter yang merawatnya. Mutakhir pada Minggu siang 4 Juli, seorang kawannya menelepon dan menginformasikan apa dengan terjadi. “Waktu itu, ibu saya meninggal urutan yang ke-36 dari keterangan panti sakit, ” tambahnya. Tempat tidak mempertanyakan lebih di. Johny hanya mengaku, memeriksa menghubungkan semua yang terjadi, terkait krisis oksigen serta kematian ibunya pada pukul 21. 00, atau sekitar 1 jam setelah sistem oksigen sentral mati. “Apakah karena jam delapan tersebut oksigen mulai habis? Hamba kurang tahu. Tapi beta korelasikan kok jam 9 itu ibu saya sudah tidak ada, meninggal. Jadi kemungkinkan, ya penyebabnya itu. Meskipun memang positif COVID-19, ” paparnya. Beban Membiak Seketika Bagi mayoritas tim pasien, krisis oksigen yang melanda RSUP Dr. Sardjito hanya bisa dirasakan dalam area sekitar ruang forensik. Pasien COVID-19 tidak kira-kira dijaga oleh keluarga, melainkan jika mereka juga terkonfirmasi positif. Indri, keluarga lupa pasien bercerita bagaimana dia harus menjalani malam tersebut untuk memastikan jenazah Pakde-nya terurus dengan baik. “Sabtu malam kami dikabari jika Bapak itu keadaannya memburuk, terus disuruh ke Sardjito. Kita sampai sana tanda 12 lebih (Minggu pra hari-red), dikasih tahu disana kalau Bapak sudah tidak ada jam 11. 30, dan diminta menunggu saja di ruang forensik, ” ujar Indri. Indri menanyakan ke staf rumah melempem, pukul berapa dia mampu menerima jenazah Pakde-nya. Tetapi semua tidak jelas, sejenis banyak yang harus ditangani. Dari bangsal tempat Pakde-nya dirawat saja, ada antrian empat jenazah. Belum sejak bangsal-bangsal yang lain. Tempat akhirnya hanya bisa menunggu di depan ruang forensik, dan menyaksikan dengan sembrono kepalanya sendiri, bagaimana situasi rumah sakit yang ternyata mengalami krisis oksigen. “Pas itu ada Brimob mengantar oksigen. Itu sekitar tanda 1 kurang, itu oksigennya pada datang. Terus dengan di sana, sudah penuh, yang mau ambil jenazah sudah banyak. Sampai Minggu subuh itu masih belum ada kabar, ” perkataan Indri. Sampai saat itu, Indri belum tahu bahwa terjadi krisis oksigen di Sardjito. Dia hanya mengaku, di depannya hilir pegangan staf rumah sakit sambil sibuk menelepon dan mendatangkan tabung-tabung oksigen. Selain tersebut, dia juga melihat bagaimana perawat naik turun mengantar jenazah ke ruang forensik setiap saat. Awalnya, sirih Indri, jenazah diambil berpijak nomor urut kematian. Tetapi karena terlalu banyak, aparat akhirnya mengambil jenazah berbarengan sesuai bangsal di mana dia dirawat sebelumnya, agar tidak menguras tenaga. Status menimbulkan protes keluarga anak obat, karena belum tentu dengan memiliki nomor urut mungil, jenazah tiba terlebih dahulu. “Kebetulan Pakde saya bagian 61, tapi sudah turun. Ada keluarga pasien bagian 44, belum turun. Akan tetapi karena dia ada di bangsa bougenvil. Kan nyana jauh, jadi itu mewujudkan heboh, terjadi selisih simpulan di sana di ruang forensik itu, ” kata Indri. Jenazah Pakde Indri sendiri tiba di bagian jenazah pukul 14. 00 hari Minggu. Tertinggal Pemakaman Begitu banyak yang kudu diurus di ruang jenazah, bahkan ada keluarga pasien yang tertinggal proses pemakaman, seperti yang terjadi di Pak Amarzoni. Dia yang kelelahan menunggu antrian jenazah, harus rela tidak menyaksikan penguburan sang istri. “Saya di depan ruang forensik, di bangku, sambil menduduki itu saya tertidur kelelahan. Lalu ambulans yang menyambut jenazah istri saya jam 05. 00 pagi sudah berangkat ke pemakaman. Berserakan saya tersentak sekitar tanda 08. 00 pagi, semrawut saya menanyakan di ruangan jenazah, bahwa istri saya sudah dibawa oleh pengangkat jenazah. Lalu saya kejar ke pemakaman, ternyata sudah dimakamkan, ” papar Zoni. Zoni mengantar istrinya di Sabtu, berboncengan sepeda motor. Setelah proses pemeriksaan, Zoni pulang untuk mengambil baju ganti dan membeli sebanyak barang. Sayang, begitu datang kembali ke rumah sakit, istrinya sudah masuk balairung isolasi. Melalui telepon, tempat menanyakan kondisi istrinya dengan ketika itu, dari nada suaranya, disimpulkan istri Zoni masih mengalami sesak. Sesudah dirawat beberapa jam, orang Zoni dinyatakan meninggal di dalam Minggu pukul 00. 30 WIB. Zoni sendiri hangat menerima kabar, ketika dia datang kembali ke panti sakit pukul 14. 00 WIB. “Saya kaget. Hamba mau marah-marah. Mau gimana. Rasanya mau menjerit. Akan tetapi gimana, ” tambahnya. Sesudah itu, dia mengurus surat-surat yang diperlukan dan menduduki di depan ruang forensik. Minggu dini hari, di tengah hilir mudik jenazah pasien lain, dia kelelahan dan tertidur di amben depan ruang forensik. Telepon genggamnya mati kehabisan gaya. Petugas membawa jenazah ke pemakaman pukul 05. 00 hari Senin, dan Zoni baru terbangun empat jam setelah keberangkatan itu. Tempat akhirnya menyusul ke makam, tetapi hanya mendapati gundukan tanah tempat istrinya tidur selamanya. [ns/ab] Tulisan ini merupakan persekutuan jurnalis tujuh media terkait pandemi, yaitu: Kompas, Bentuk, IDN Times, Tirto. id, Harian Jogja, CNN INdonesia TV, dan VOA Indonesia