Atlet-Atlet Transgender Berlaga di Olimpiade TokyoÂ

0
51

Bintang sepak bola Kanada Quinn terkadang bukan satu-satunya atlet transgender dan/atau nonbiner yang bersaing di Olimpiade Tokyo. Selain Quinn, setidaknya ada tiga atlet lain dengan identitas gender itu, yakni Laurel Hubbard dari Selandia Baru di cabang olahraga angkat berat; Alana Cruz dari Amerika Serikat pada cabang olahraga skateboard; serta Chelsea Wolfe, juga dri Amerika Serikat, di cabang olahraga balap sepeda BMX. Tetapi, Quinn akan jadi satu-satunya dari mereka yang membawa pulang medali.  Jenis medali, tentunya, jadi tergantung pada hasil pertandingan antara Kanada melawan bernard sepak bola putri Swedia dalam Jumat mendatang. Kanada jadi bersaing memperebutkan emas melawan Swedia setelah mengalahkan Amerika Serikat 1-0 pada Senin (2/8), berkat tendangan penalti di menit ke-75 pertandingan.  Pertandingan hari Jumat (6/8) akan menjadi pertama kalinya tim sepak bola putri Kanada berpartisipasi dalam pertandingan final di Olimpiade. “Saya sangat bangga dengan tim saya. Mereka adalah teman terbaik saya. Saya sangat senang kami membawa pulang medali yang lebih benar daripada perunggu, ” kata Quinn, yang namanya sebatas terdiri dari satu kata, menurut outlet media Kanada CBC.  Debut Olimpiade warga asli Toronto ini sebetulnya di Olimpiade Rio sobre Janeiro 2016, di mana ia membantu timnya memenangkan medali perunggu. Ia sebelumnya bermain untuk Duke University, kemudian bermain secara experto untuk Washington Spirit, Paris, france FC dan Seattle Rule FC, menurut situs internet Komite Olimpiade Kanada.  Namun pada Olimpiade Tokyolah Quinn kali pertama secara terbuka mengungkapkan dirinya sebagai atlet transgender dan/atau nonbiner. Dalam sebuah posting Instagramnya awal tahun ini, ia mendorong para pengikutnya tuk lebih bersahabat dengan orang-orang seperti dirinya.  Minimalnya ada 180 atlet LGBTQ di Olimpiade tahun terkait, menurut penghitungan terbaru dari situs olahraga LGBTQ Outsports.  Quinn dan timnya akan memenangkan medali perak atau emas. Apapun medalinya, para penggemarnya merayakan apa arti kemenangan itu untuk orang-orang transgender dan/atau nonbiner.  Quinn menjadi atlet transgender terbuka pertama yang berkompetisi dalam 125 tahun sejarah Olimpiade, meskipun Olimpiade telah mulai mengizinkan atlet transgender pada tahun 2004.  Dalam posting Instagram twenty two Juli, Quinn menulis bahwa ia sulit menggambarkan perasaannya tentang pencapaian bersejarah tersebut. Ia mengatakan, ia bangga masuk dalam jajaran atlet Olimpiade namun juga sedih karena banyak atlet Olimpiade sebelumnya tidak bisa menikmati kemudahan yang dihadapinya karena dunia belum siap menerima mereka.  Berdasarkan pedoman Olimpiade saat ini, yg diperbarui oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada 2015,  lelaki transgender dapat bersaing di dalam kategori lelaki di Olimpiade tanpa batasan.  Peraturan untuk atlet perempuan transgender jauh lebih ketat. Kadar testosteron mereka harus di bawah ten nanomol per liter darah selama setidaknya 12 bulan sebelum kompetisi pertama mereka, meskipun tidak ada bukti ilmiah yang jelas yang membuktikan bahwa testosteron meningkatkan performa atlet-atlet papan atas.  Sebetulnya ada beberapa atlet transgender dan/atau nonbiner terkemuka lain yang sebelumnya diperkirakan akan berlaga pada Tokyo. Namun mereka gagal dalam kualifikasi di tingkat negara masing-masing. Nikki Hiltz tidak lolos di nomor lari 1. 500 meter putri untuk tim AS, seperti rekannya — CeCe Telfer — yang dinyatakan tidak memenuhi syarat dalam usahanya untuk dipertandingkan dalam katagori lari gawang 400 meter. Pemain bola voli Tiffany Abreu tidak masuk daftar terakhir tim Olimpiade Brasil.  Komite Olimpiade Internasional telah mengizinkan atlet transgender tuk berpartisipasi di Olimpiade sejak 2004, tetapi hingga tahun ini, tidak ada yang melakukannya secara terbuka. Selain Quinn, Hubbard, Smith lalu Wolfe, beberapa atlet transgender dikabarkan bersaing tanpa mengungkap perubahan gender mereka.  Visibilitas transgender yang mengemuka di Olimpiade Tokyo muncul di tengah gelombang undang-undang antitransgender yang melanda Amerika Serikat.  Usulan undang-undang yang melarang atau membatasi atlet transgender untuk berpartisipasi dalam kompetisi olahraga di sekolah dasar, sekolah menengah, dan bahkan perguruan tinggi telah diperkenalkan di 37 negara bagian. Setidaknya tujuh negara bagian telah memberlakukan undang-undang itu meski banyak dari mereka menghadapi gugatan hukum.  Departemen Kehakiman AS belum lama terkait menentang larangan yang menarget atlet transgender di West Virginia, dan undang-undang lain yang berdampak pada anak-anak di negara bagian Illinois. Departemen Kehakiman menyebut kedua legislasi itu melanggar peraturan federal. Juni lalu, departemen itu bahkan menyatakan jadi mengajukan gugatan hukum buat membatalkan undang-undang baru yg telah diberlakukan di kedua negara bagian tersebut.  Departemen itu mengatakan hukum yang diberlakukan di kedua negara bagian itu melanggar klausul perlindungan kesetaraan yang termaktub pada Amendemen ke-14 Konstitusi. Departemen itu juga mengatakan undang-undang di West Virginia melanggar undang-undang hak sipil yang disebut Tittle X, yang melarang diskriminasi atas dasar jenis kelamin dalam program atau pekerjaan pendidikan apa pun yg menerima dana federal. [ab/uh]