ASEAN Sepakati Menlu Kedua Brunei Sebagai Utusan Khusus Untuk Myanmar

0
45

Pertemuan para menteri luar negeri ASEAN yang berlangsung secara maya, Rabu (4/8), akhirnya mengesahkan komunike bersama yang salah satu isinya menyetujui penunjukan Gajah Luar Negeri Kedua (II) Brunei Darussalam Dato Erywan Pehin Yusof sebagai suruhan khusus ASEAN untuk Myanmar. Penunjukan Dato Erywan selalu sudah disetujui oleh junta Myanmar.  Dalam bahan pers usai pertemuan para menteri luar negeri ASEAN tersebut, Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Kampung Sidharto Suryodipuro menjelaskan isu Myanmar dalam komunike bersama-sama itu merupakan kesepakatan semua negara anggota ASEAN minus terkecuali.  Penunjukan suruhan khusus tersebut sekaligus mengupas kebuntuan sejak pertemuan para-para pemimpin ASEAN di Jakarta akhir April lalu, dengan menghasilkan lima poin persetujuan untuk menyelesaikan konflik kebijakan di Myanmar.  “Adanya penunjukan utusan khusus, yaitu Menteri Luar Negeri II Brunei Dato Erywan. Adanya komitmen yang konkret kalau utusan khusus akan segera memulai kerjanya, akan ada kerangka waktu yang sahih, akan diberikan akses penuh kepada semua pihak di Myanmar, dan agar utusan khusus itu melapor kepada pertemuan tingkat menteri luar negeri mendatang di kamar September, ” kata Sidharto. Menurut Sidharto, para menteri luar negeri ASEAN akur memandang lima poin kemufakatan yang dihasilkan para atasan ASEAN sangat penting buat segera dilaksanakan tanpa syarat.  Ke depannya nanti, lanjut Sidharto, Myanmar kudu bekerjasama agar utusan istimewa ASEAN Dato Erywan jadi dalam melaksanakan tugasnya sehingga Myanmar bisa keluar lantaran krisis. Semua negara ASEAN juga sepakat agar AHA Center, Pusat Koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan, secepatnya mengirim bantuan ke Myanmar. Sidharto menambahkan semua pacar ASEAN mendukung lima poin konsensus yang dihasilkan dalam pertemuan para pemimpin ASEAN April lalu. Kelima persetujuan itu adalah, pertama, kebengisan harus segera dihentikan pada Myanmar dan semua bagian harus menahan diri sepenuhnya; kedua, dialog konstruktif kurun semua pihak terkait untuk mencari solusi damai perlu kepentingan rakyat;  ketiga, utusan khusus ASEAN akan memfasilitasi mediasi proses dialog secara bantuan Sekretaris Jenderal ASEAN; keempat, ASEAN akan menyampaikan bantuan kemanusiaan melalui AHA Centre; dan kelima, utusan khusus dan delegasi bakal mengunjungi Myanmar untuk bersemuka semua pihak terkait. Peneliti ASEAN dari Lembaga Menuntut Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pandu Prayoga, mengatakan efektif atau tidaknya utusan khusus di dalam menyelesaikan krisis politik di Myanmar sangat bergantung di dalam bagaimana kinerja utusan istimewa dan bagaimana respons bagian berwenang Myanmar. “Kita berharap Myanmar bisa mengikuti barang apa yang menjadi rekomendasi lantaran utusan khusus ini atau hasil investigasi. Kita berniat Myanmar jujur dan terbuka, ” ujar Pandu. Selain isu Myanmar, komunike berhubungan ASEAN menyoroti konflik dalam Laut China Selatan. Para-para menteri luar negeri ASEAN mengimbau agar semua pihak meningkatkan rasa saling membenarkan dan menghindari segala kegiatan yang bisa memicu penambahan ketegangan. ASEAN meminta pertentangan Laut China Selatan diselesaikan secara damai berdasarkan kaidah hukum internasional, termasuk Patokan Laut Internasional 1982.  ASEAN menekankan kepada seluruh pihak untuk memelihara & memajukan perdamaian, keamanan, kemantapan, dan kebebasan pelayaran & penerbangan di atas Bahar China Selatan. [fw/ab]