Hari Gajah Sedunia: Gajah Memiliki Hak Hidup Seperti Halnya Manusia

0
29

Tanggal 12 Agustus adalah Hari Gajah Sedunia. Sebelumnya pada tarikh ini, organisasi internasional dengan didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam Uni Universal untuk Konservasi Alam (IUCN) menyatakan, meningkatnya perburuan kasar dan berkurangnya habitat sudah membuat populasi gajah Afrika semakin terancam. Sebuah perlindungan margasatwa di Kenya membesarkan dan memelihara anak-anak gajah yang kehilangan induk pra melepasliarkannya. Gajah hutan Afrika sangat terancam keberadaannya, begitu pula gajah padang rumput atau sabana di negeri itu. Ini dikemukakan sebab IUCN, yang sebelumnya mengelompokkan kedua spesies itu & menetapkan keduanya dalam bagian rentan, artinya menghadapi risiko tinggi kepunahan di negeri liar. Jumlah gajah alas Afrika merosot lebih lantaran 86 persen dalam masa 31 tahun, sedangkan populasi gajah sabana berkurang lebih dari 60 persen di dalam periode 50 tahun, taat IUCN, yang memeringkat risiko kepunahan global pada satwa-satwa di dunia. IUCN membuktikan, Afrika sekarang ini memiliki sekitar 415 ribu ekor gajah, baik yang tumbuh di hutan maupun pada padang rumput. Di Sheldrick Wildlife Trust, sebuah perlindungan margasatwa di Nairobi, Wanita, anak-anak gajah tanpa pati dibesarkan sebelum dilepas ke alam liar. Kepala suaka tersebut, Edwin Lusichi, menyampaikan, “Kami melindungi gajah-gajah dengan telah kehilangan induk tersebut. Dan hewan-hewan tersebut seharusnya tidak kehilangan induk, seharusnya tidak boleh menjadi yatim piatu. Tetapi ini sudah terjadi. ” Setelah berfungsi lama dengan gajah-gajah itu, Lusichi mengakui bahwa hewan itu sangat jinak, pintar, dan sangat mirip secara manusia. Ia mengatakan cara manusia memperlakukan gajah mirip dengan cara manusia memandang diri sendiri. Jadi meskipun bertubuh besar, gajah bukanlah hewan yang menakutkan bagi manusia, jelasnya.  Sheldrick Wildlife Trust didirikan pada tahun 1977. Menurut perlindungan tersebut, lebih dari 263 gajah tanpa induk jadi dibesarkan di tempat itu. CEO suaka itu, Angela Sheldrick, menjelaskan, “Kami sudah mampu memelihara lebih daripada 260 gajah tanpa sari selama bertahun-tahun dan meremajakan hewan itu ke negeri liar sehingga mereka dapat kembali dalam kehidupan garang dan berbaur ke kawanan liar. Kami melakukannya di Taman Nasional Tsavo, taman nasional terbesar Kenya. ” IUCN mengatakan kedua spesies gajah Afrika telah mengalami penurunan tajam sejak 2008 karena peningkatan signifikan pelacakan liar, yang memuncak di dalam tahun 2011 tetapi tetap mengancam populasi gajah. Angela Sheldrick mengemukakan, “Syukurlah, di dalam beberapa tahun terakhir, saya tidak memiliki banyak gajah yatim piatu, karena perburuan liar menurun. Tetapi kami melihat semakin banyak kejadian konflik manusia-satwa liar serta sering kali kebanyakan daripada gajah yang berada di sini adalah akibat pertikaian manusia-satwa liar. ” Menurutnya, di semua negara di Afrika di mana gajah masih ditemukan, perlu ada kebijakan penggunaan lahan untuk mengurangi dampak konflik bani adam dan satwa liar. Apabila terjadi konflik itu, lanjut Angela Sheldrick, gajahlah yang terdampak paling buruk. Hari Kamis 12 Agustus adalah Hari Gajah Sedunia, program internasional yang didedikasikan buat pelestarian alam dan pelestarian terhadap gajah dunia. Kepala suaka Sheldrick, Edwin Lusichi, menyatakan setiap hari untuk mereka adalah Hari Gajah Sedunia. Ia mengatakan, “Penting sekali pada Hari Gajah Sedunia bagi semua orang untuk tahu bawa gajah memerlukan taring untuk membela diri, untuk makan, & untuk menggali air dalam sungai-sungai kering. Itu sebabnya di sini, di Sheldrick, setiap hari adalah Keadaan Gajah Sedunia. Kami bertemu gajah-gajah itu, bekerja buat hewan itu siang serta malam, dan karena itu, kami perlu menyebarkan ke setiap orang di dunia bahwa gajah memiliki hak untuk hidup, seperti Anda dan saya. ” [uh/ab]