Sunday, March 7, 2021
Sementara debat tahunan Majelis Umum PBB berlangsung, Selasa (22/9), memerangi dan memberantas pandemi virus corona adalah perhatian utama negara-negara besar dunia.  Para pemimpin global bertemu secara virtual tahun ini karena Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Menurut Johns Hopkins University Coronavirus Resource Center, yang melacak data Covid-19, Kasus virus corona yang dikonfirmasi di seluruh dunia telah melampaui 31 juta, dengan lebih 960 ribu kematian. Dari China, yang diyakini sebagai negara asal virus, Presiden Xi Jinping berjanji akan mengatasi virus itu. Ia mengumumkan bahwa Beijing akan memberi tambahan $50 juta bagi rencana PBB untuk tanggap kemanusiaan global Covid-19. Ia mengatakan negaranya membuat kemajuan dalam vaksin. Ia juga mengecam upaya mempolitisasi atau menstigmatisasi virus itu.  Dalam pidatonya di PBB, Presiden Amerika Donald Trump mengecam China. Ia menyebut Covid-19 sebagai "virus China", dan mengatakan Beijing harus bertanggung jawab karena telah "melepas virus itu" ke dunia. Ia mengatakan Amerika juga sedang mengembangkan bakal vaksin.  Presiden Rusia Vladimir Putin juga memuji kemajuan negaranya dalam pembuatan vaksin. Dalam pidato melalui video, Putin mengatakan, Moskow siap memberi vaksinnya secara gratis supaya PBB bisa memvaksinasi stafnya. Dalam pidatonya, Presiden Joko Widodo juga menyinggung soal vaksin. Jokowi mengatakan, vaksin adalah penentu dalam perang melawan pandemi.  [ka/pp] 
Agustinus Setiadarma, Diaspora Indonesia pada Midland, kota kecil di negeri bagian Texas, sempat tertular virus Korona setelah berkumpul bersama teman-temannya. Ia menjalani pengobatan di sendi selama 3 minggu, dan balik menekuni hobinya berlari. Amankah beraktivitas kembali setelah terkena Korona?
Badan urusan pengungsi PBB (United Nations High Commissioner for Refugees /UNHCR) menyatakan lebih sebab 25 ribu warga Ethiopia, umum perempuan dan anak-anak, telah lari menghindari kekerasan di kawasan Tigray di negara itu menuju Sudan. Menurut UNHCR, Senin (16/11), klan terbesar yang mengungsi sejak pertikaian dimulai, terdiri dari hampir 5. 000 orang, tiba di provinsi-provinsi perbatasan Sudan pada hari Minggu (15/11). Jens Hasemann, Koordinator Respons Darurat UNHCR menggambarkan situasi dalam sana sangat buruk. Ia mengatakan UNHCR, Program Pangan Dunia, Sengkang Merah Sudan, Muslim Aid & berbagai organisasi lainnya memberi bantuan, tetapi masih banyak lagi tumpuan yang diperlukan. Pertempuran meletus dalam pekan lalu setelah PM Ethiopia Abiy Ahmed meluncurkan ofensif tentara terhadap pemerintah regional Tigray, sesudah serangan yang diduga dilakukan tentara Tigray. Pemerintah Abiy pada hari Senin (16/11) kembali menolak seruan dunia internasional agar membuka buah untuk mengakhiri konflik, sementara negeri tetangga Uganda dan Kenya mengemukakan permintaan serupa bagi kedua bagian untuk mengupayakan resolusi damai bagi krisis di sana. Ketegangan menyusun di kawasan sejak 9 September lalu sewaktu Tigray, negara bagian paling utara di Ethiopia, bersikukuh mengadakan pemilihan regional setelah Ahmed menangguhkan pemilu, dengan alasan pandemi Covid-19. [uh/ab]#@@#@!!
Badan pengungsi PBB, UNHCR melaporkan ratusan ribu pengungsi Suriah di negara-negara tetangga yang memberi suaka, dalam kesulitan karena kemerosotan ekonomi akibat pandemi COVID-19. Lima negara, Mesir, Irak, Yordania, Lebanon, dan Turki menampung lebih dari lima setengah juta warga Suriah, kelompok pengungsi terbesar di dunia. Banyak pengungsi hidup di bawah garis kemiskinan serta kesulitan mencari nafkah. Badan pengungsi PBB melaporkan semakin banyak pengungsi kehilangan penghasilan kecilnya karena kemerosotan ekonomi yang disebabkan pandemi COVID-19, yang memaksa mereka mengambil langkah drastis untuk bertahan hidup. Juru bicara UNHCR, Andrej Mahecic, mengatakan kepada VOA, rumah tangga yang dikepalai perempuan, anak-anak yang tidak didampingi atau dipisahkan dari orangtua mereka, penyandang cacat dan lanjut usia sangat rentan. “Risiko dieksploitasi dan dilecehkan bagi orang-orang dalam situasi seperti itu sangat serius. Kami sangat prihatin tentang itu. Kami memiliki bukti bahwa orang-orang mencoba untuk tidak makan pada waktu makan, sehingga bisa bertahan lebih lama. Mereka mungkin tidak minum obat, segala upaya dilakukan untuk berhemat, ” ujarnya. UNHCR melaporkan, sembilan dari sepuluh pengungsi Suriah di wilayah itu tinggal di kota atau desa dan tidak di kamp. Mahecic mengatakan, sebagian besar tinggal di daerah berpenghasilan rendah di mana mereka bersaing dengan penduduk setempat untuk mendapat pekerjaan dengan keterampilan rendah. Juru bicara UNHCR, Andrej Mahecic menambahkan, “Rumah-rumah tangga pengungsi terbebani hutang tambahan dan mereka tidak mampu membayar sewa lagi. Risiko-risiko perlindungan serius juga meningkat, termasuk risiko pekerja anak-anak, kekerasan berdasar gender, pernikahan dini dan bentuk-bentuk eksploitasi lainnya. ” Selain keluarga yang sudah diketahui rentan, Mahecic mengatakan dampak pandemi membuat two hundred. 000 pengungsi lainnya memerlukan bantuan darurat. Ia mengatakan UNHCR menyediakan uang tunai darurat untuk mendukung beban pengungsi tambahan di lima negara suaka. [ps/my]#@@#@!!
Bagi mayoritas masyarakat, pandemi misalnya virus corona sekarang adalah sebatas kondisi darurat kesehatan. Penyikapannya disesuaikan dengan protokol sektor ini, yang sepenuhnya ditetapkan berdasar ilmu pengetahuan modern. Namun, ada sebagian masyarakat di Indonesia yang melihat pandemi dari sudut pandang yang berbeda. Di Bali misalnya, desa-desa adat berperan menggelar kegiatan yang dapat dikelompokkan dalam dua bidang, yaitu sekala dan niskala. Sekala adalah yang terlihat, dan niskala berkaitan dengan apa yang tidak terlihat. Konsep ini dijelaskan Guru Besar Hukum Adat Universitas Udayana, Bali, Prof Wayan P. Windia.  “Untuk melaksanakan aktivitas niskala berupa upacara agama tertentu, bukan upacara adat. Upacara yang dilaksanakan serangkaian dengan wabah Covid-19 ini mirip upacara Nyepi, dilaksanakan 8 04, kedua 22 April dan terakhir pada 7 Mei, mirip suasananya seperti itu. Jadi, apa yang dilakukan, nyambung antara aktivitas sekala, yang nyata dan aktivitas niskala-nya, ” papar Windia. Windia menjelaskan hal itu dalam diskusi "Melihat Covid-19 dari Perspektif Hukum Adat". Diskusi daring ini diselenggarakan Asosiasi Pengajar Hukum Adat (APHA) Indonesia pada Selasa, 12 Mei 2020. Dua Konsep Keseimbangan Aktivitas niskala, kata Windia, bertujuan untuk menghormati alam. Umat Hindu di Bali percaya, tubuh manusia dan alam disusun berdasar unsur yang sama, yaitu tanah (padat), air (cair), udara, api dan ruang kosong. Jika terjadi tubuh manusia mengalami sakit, maka kemungkinan ketika tersebut alam juga sedang terganggu. Karena itulah, untuk mencegah penularan trojan corona, tidak cukup melakukan pendekatan sekala, masyarakat Bali merasa penting melakukan aktivitas niskala. Sewaktu terjadi tragedi Bom Bali, masyarakat Bali menggelar upacara Karipubaya. Jika Densus 88 mengejar teroris itu termasuk aktivitas sekala, kata Windia, masyarakat melakukan upacara untuk mengembalikan keseimbangan alam sebagai niskala. Kali ini, desa-desa adat di Bali juga tetap menjalankan aktivitas sekala terkait pandemi virus corona. “Aktivitas sekala yang dilakukan desa adat persis seperti apa yang diarahkan dengan gugus tugas penanganan Covid-19 dari tingkat pusat sampai ke desa adat. Sama persis, ” kata Windia. Kegiatan itu antara lain lebih banyak di rumah, menjaga jarak, memakai masker, rajin cuci tangan da sebagainya. Sebagai tambahan, kata Windia, desa adat pada Bali juga memberikan dukungan ekonomi kepada warga. Hal ini diaplikasikan karena desa adat di Bali memiliki lembaga usaha yang menggerakkan kekayaan adat mereka. Ahli hukum adat dari Universitas Sahid, Dr Laksanto Utomo juga memaparkan bagaimana cara pandang masyarakat adat Samin terhadap pandemi virus corona. Samin adalah kelompok masyarakat di sekitar Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Mereka menganut ajaran kepercayaan sendiri, dan saat ini terus menolak pembangunan pabrik semen yang dikhawatirkan merusak lingkungan adat mereka. Wabah dan Keselarasan Alam Dijelaskan Laksanto, masyarakat adat Samin percaya pandemi nampak sebagai reaksi alam terhadap apa yang dilakukan manusia. “Yang diaplikasikan Ibu Pertiwi, sebagai pertanda bumi telah memulai mengadili. Mereka menyatakan, bahwa wabah corona membuat bingung semua kalangan dan memberikan kesulitan mendapatkan bahan pangan, ” kata Laksanto. Dari pernyataan sikap tersebut, kata Laksanto, sejak awal terbukti bahwa masyarakat Samin percaya pandemi terkait dengan bahan pangan. Jika pandemi ini terus berlanjut, dapat dipastikan masyarakat bawah akan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhannya. Karena itulah, masyarakat Samin mendesak semua pihak menjaga keseimbangan alam. Pada twenty one April lalu, tambah Laksanto, masyarakat Samin menyampaikan sikap yang menekankan perlunya tindak perusakan alam dihentikan. Seharusnya, proses pembangunan pabrik sperm di dekat desa mereka dihentikan. Wabah ini datang, menurut kelompok yang juga dikenal sebagai Sedulur Sikep ini, sebagai bagian dari proses menata kembali alam semesta. “Pada prinsipnya, Sedulur Sikep serta Jaringan Masyarakat Peduli Gunung Kendeng menginginkan wabah Covid-19 ini menghentikan seluruh operasi dan eksploitasi oleh pabrik semen dan mematuhi aturan terkait kondisi saat ini, ” lanjut Laksanto. Masyarakat Samin, kata Laksanto percaya bahwa bumi memberikan kehidupan. Menjadi tugas manusia menjaga kelestariannya dan menjaga kehidupan untuk masa depan. Adat Menjaga Kesehatan Guru Besar Hukum Adat Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Prof Aminuddin Salle mengungkap kekayaan adat daerah itu terkait kesehatan. Salah satunya adalah budaya gotong royong membersihkan lingkungan, yang juga ada di daerah lain. Di masyarakat pedesaan budaya ini masih kuat, dan kian tersisih di kelompok masyarakat perkotaan. Aminuddin juga mengingat, di masa lalu rumah adat di daerahnya selalu dilengkapi gentong air di depan rumah. Fungsinya adalah untuk cuci tangan, muka dan kaki bagi tamu atau siapapun yang datang. Kekayaan adat itu membuktikan bahwa menjaga kesehatan dengan budaya cuci tangan sudah ada di masyarakat sejak lama. Masyarakat setempat juga memiliki cairan cuci tangan khusus yang dibuat dari jerami. “Masyarakat kita mempunyai jerami bakar yang digunakan tuk hand sanitizer, nah mungkin wujud pengetahuan lain yang juga berfungsi sebagai obat, sekaligus juga menciptakan keseimbangan alam, ” ujar Aminuddin. Sementara Prof Chatarina Dewi Wulansari dari Universitas Parahyangan mengatakan, wujud banyak yang bisa dipelajari dari kekayaan masyarakat adat Indonesia di sektor kesehatan. “Hak pengelolaan kesehatan, apabila itu memang merupakan kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat adat, kenapa tidak digunakan. Kita dapat menggunakan berbagai macam bahan yg bisa kita gunakan untuk kesehatan dan itu dikelola oleh penduduk adat, ” kata Dewi. Dewi memaparkan tentang konsep community-based natural resource management di sejumlah negara Afrika. Program ini antara lain berupa upaya menjaga kesehatan masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada di sekitarnya. Terbukti, konsep tersebut berhasil menciptakan penduduk adat yang lebih sehat. Di dalam situasi wabah, dimana promosi kesehatan menjadi sesuatu yang penting, kekayaan adat ini harus digali kembali jika memang memberikan hasil positif. [ns/ab]#@@#@!!
Warga Amerika bersiap untuk acara pelantikan Presiden-terpilih Joe Biden minggu depan setelah berlangsung pemilihan yang paling sengit dan serangan disertai kebengisan terhadap Gedung Capitol oleh pembantu Donald Trump. Â
Pandemi Covid-19 telah mengganti Christina Blanch, pemilik toko komik,  Aw Yeah Comics. Ia memilih menjelma pembawa acara TV malam. Sembilan kali seminggu, Blanch menyiarkan streaming langsung dari toko komiknya yang ia tinggali di Muncie, Indiana, untuk menjual kaum komik dan berinteraksi dengan pelanggan tetap. Dia mengangkat cerita satu per satu, biasanya seharga $5 atau $10, dan mencatat alamat pembelinya. Tersebut cara untuk bertahan selama pandemi,  tetapi juga menjaga semangat komunitas toko tetap hidup. Agenda ini memiliki rasa kehangatan,  dan perasaan bahwa kita saling memiliki-satu-sama lain karena berkat dari Tuhan.  Ia memberi judul acaranya itu: “Apa yang Kita Lakukan di Toko Komik”. Krisis akibat pandemi,  yang juga dirasakan oleh toko-toko eceran lainnya, merupakan ancaman khusus terhadap toko buku komik,  sebagai sebuah lembaga yang menimbrung mempromosikan budaya populer.  Dewasa ini, pemilik toko komik berusaha untuk tetap bertahan dalam era hiburan digital dan tidak menyerah kepada pemodal besar (perusahaan). [ps/pp]#@@#@!!
Vanderlecia Ortega dos Santos, yang pelik disapa Vanda, bekerja sukarela untuk menyediakan satu-satunya layanan kesehatan di garis depan. Ia melindungi komunitas suku aslinya yang beranggotakan 700 keluarga dari wabah COVID-19 yang melanda kota Manaus, Brasil.
California langsung meningkatkan jumlah ranjang rumah sakit agar tersedia dalam pandemi virus corona yang sedang berlangsung, secara membuat rumah sakit darurat dalam Santa Clara Convention Center, San Francisco Bay Area. Sejumlah bagian Garda Udara Nasional California positif pemasangan velbed dan peralatan yang lain. Â Gedung konvensi itu sanggup menampung 250 tempat tidur. Rumah melempem darurat lainnya juga disiapkan pada beberapa tempat di negara periode tersebut. Untuk mengantisipasi lonjakan kejadian COVID-19 minggu ini yang kira-kira membuat sistem kesehatan kewalahan, Pemangku Kota Los Angeles Eric Garcetti mendesak orang yang dites tentu corona untuk tidak bergegas ke rumah sakit kecuali jika membuktikan beberapa gejala serius. Â Sebaliknya, Garcetti meminta 4 juta penduduk kota itu mencari cara bagaimana memisahkan diri dari anggota rumpun ketika menjalani karantina di rumah. Â Virus corona bisa menunjukkan beberapa gejala ringan atau cukup bagi kebanyakan orang, tapi untuk sebagian orang, terutama lansia & yang punya kondisi kesehatan tertentu, dapat menyebabkan penyakit yang bertambah parah ataupun kematian. [mg/ii]#@@#@!!
Vaksin COVID-19 menunjukkan hasil positif tetapi agak mengecewakan di tahap pertama pengujian, menurut suatu studi baru yang diterbitkan Jumat (22/5) dalam jurnal medis The Lancet. Vaksin yang diuji di China itu memicu respons kekebalan pada sebagian besar, tetapi tidak semua pasien, dan banyak menerbitkan efek samping negatif. Studi itu adalah yang pertama yang mempublikasikan hasil dari tahap awal pemeriksaan vaksin COVID-19. Lebih dari 100 lainnya sedang dalam pengembangan di seluruh dunia, termasuk sembilan yang lain dalam uji klinis. “Jika tersebut satu-satunya vaksin yang tersedia, kami pikir banyak orang akan menggunakannya, ” kata Gary Simon, Besar Divisi Penyakit Menular di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas George Washington di Washington, D. C. Namun, ia menambahkan, “kecuali mereka bisa mengurangi dampak negatifnya, saya tidak bisa melihat dengan jalan apa vaksin itu akan menjadi penangkal utama. ” [lt/pp] Â